GAMELAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd.)

Bookmark and Share
21 Desember 2021 - 07:30:16 » Diposting oleh : rahmatmulyono » Hits : 532
GAMELAN WARISAN BUDAYA TAK BENDA (Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd.)

 

HUMAS. 21/12/2021. UNESCO telah menetapkan gamelan sebagai warisan budaya tak benda (Kedaulatan Rakyat, 17/12/2021). Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan dunia ini menyatakan penetapan gamelan merupakan urutan ke-12 yang dimiliki Indonesia, selain keris (2008), wayang (2008), batik (2009), dan lain-lain. Kabar baik ini tentu membuat kita bangga terhadap warisan leluhur Nusantara. Budaya Nusantara yang membentang dari Sabang sampai Merauke telah dan akan terus menginternasional. Legitimasi dunia terhadap kebudayaan kita hendaknya tak berhenti pada kebanggaan sesaat. Kita masih memiliki kewajiban untuk terus meneladani, menghidupkan, dan melestarikan (nguri-uri). Gamelan sarat akan nilai luhur yang sangat relevan bagi pemandu kehidupan sehari-hari. Di balik kebendaan gamelan, terkandung pisungsung agung masyarakat Jawa. Dalam istilah sekarang gamelan secara intrinsik memuat nilai pendidikan karakter.

 

Ki Hadjar Dewantara pernah menyebut kedekatan orang zaman dahulu terhadap gamelan. Bagi pertumbuhan maupun pendidikan anak, mempelajari gending Jawa merupakan keutamaan. Menurut bapak pendidikan nasional itu, gamelan akan memperkuat dan memperdalam rasa kebangsaan. Kedalaman rasa yang ditimbulkan gamelan membuat permainan anak waktu itu tidak pernah tidak terpisah dari gending. Gending dan tembang yang termuat di dalam permainan seperti dalam sariswara, dengan sendirinya akan melatih kepekaan batin anak. Maka bagi orang Jawa kesenian telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kesenian ini akhirnya bukan hanya tontonan, melainkan juga tuntunan hidup. Tuntunan ini antara lain mengajarkan keharmonisan. Harmoni tersebut juga merupakan karakteristik permainan gamelan. Tanpa keseimbangan pukulan atau tabuhan pengrawit suara gamelan tidak berirama. Di balik keseimbangan permainan gamelan, kerja sama adalah prasyarat mutlak untuk menghasilkan keindahan nada atau wirama.

 

Keharmonisan gamelan dapat kita teladani dalam kehidupan individu dan sosial. Pertama, sinergi antara kehalusan budi, kecerdasan otak, dan kesehatan badan. Pandangan ini berakar dari pemikiran Ki Hadjar yang sekarang sering diterjemahkan dalam dunia pendidikan sebagai ranah afeksi, kognisi, dan psikomotor. Dengan kata lain, kecerdasan intelektual dan spiritual membuat individu menjadi manusia seutuhnya. Bila salah satunya tidak terpenuhi, manusia akan terombang-ambing (disharmoni). Namun, dua hal ini memerlukan kesehatan prima. Sehat badan, jiwa, dan pikiran adalah fondasi mendasar keseimbangan diri. Kedua, keseimbangan sosial yang diwujudkan oleh tenggang rasa. Orang Jawa mengenalnya dalam etos bebrayan agung. Keharmonisan masyarakat ditunjukkan melalui sikap paseduluran tanpa tepi. Contoh pertama dan kedua tersebut merupakan modal kultural untuk mewujudkan persatuan serta kesatuan bangsa.

 

Jika kita pandang lebih mendalam, gamelan mengajarkan kita untuk terus mengasah psikologi raos (kawruh jiwa) seperti dikatakan Ki Ageng Suryomentaram. Rasa di sini merupakan epistemologi filsafat Jawa dalam membangun kesadaran-diri maupun kesadaran-sosial. Itulah sebabnya, antara rasa kesenian, rasa kesusilaan, dan rasa agama memiliki hubungan erat. Meneladani nilai-nilai yang terkandung di dalam gamelan mengantarkan kita kepada pencapaian rasa seperti itu. Tentu capaian tersebut memerlukan serangkaian proses pendidikan yang direncanakan secara terintegrasi. Artinya, trisentra pendidikan (alam keluarga, sekolah, dan pemuda) dapat melakukan orientasi pendidikan dengan mendayagunakan nilai-nilai gamelan. Selama ini gamelan hanya dipakai sebagai instrumen pelengkap kesenian pertunjukan. Padahal, gamelan bukan hanya benda yang terpisah dengan situasi pendidikan atau pembelajaran. Selain sebagai alat, gamelan juga merupakan medium atas sumber nilai pendidikan.

 

Sesuai dengan tujuh program dalam Grand Design Keistimewaan DIY 2022-2042, gamelan memiliki nilai strategis dalam mewujudkan program Sekolah Keistimewaan DIY atau Pendidikan Kejogjaan yang digagas Dewan Pendidikan DIY.  Selain itu akan mendukung pendidikan dengan metode sariswara, yaitu suatu metode pembelajaran yang memadukan bahasa, seni/gendhing, dan cerita dalam satu paket, yang telah dikukuhkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi  sebagai warisan  budaya tak benda. Walau gamelan peninggalan leluhur yang diperkirakan telah ada sejak 404 Masehi muatan nilainya seperti melampaui zaman. Dengan demikian, momentum penetapan gamelan sebagai warisan budaya tak benda merupakan kebanggaan sekaligus memberikan tantangan bagi dunia pendidikan, Sekolah Keistimewaan DIY, dan Pendidikan Kejogjaan.

 

Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. (Dosen Pascasarjana Pendidikan/Kepala Lembaga Pengembangan UST Yogyakarta)

Artikel dimuat di SKH Kedaulatan Rakyat, Selasa Legi, 21 Desember 2021 pada Kolom Analisis.

 


Salam Humas

Ki RM

 

 

Info Terkait

Tinggalkan Komentar

  • Nama
  • Website
  • Komentar
  • Kode Verifikasi
  • 194 + 8 = ?
Banner
SMS Center
PMB
Peninjauan Kurikulum
Online Support
Statistik Member
Member:224 Orang
Member Aktif:224 Orang
Member Baru Hari Ini:0 Orang
Copyright © 2014 Pascasarjana Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. All Rights Reserved
Developed by Beesolution.Net