News Update15 Desember 2014 12:25:53: Penandatanganan MOU UST dengan 3 Perguruan Tinggi

Pendidikan Berlabel Internasional Suka Latah dan Salah kaprah

Bookmark and Share
02 Mei 2018 - 09:08:39 » Diposting oleh : admin » Hits : 654
Pendidikan Berlabel Internasional Suka Latah dan Salah kaprah

YOGYA (KR) Pendidikan berlabel internasional di Indonesia suka latah dan salah kaprah. Bahkan sekadar ikut ikutan biar dianggap maju, mengglobal atau menginternasional. Sudah saatnya, lembaga pendidikan di Indonesia dari tingkat dasar, menengah dan tinggi memiliki ciri khas, kepercayaan diri, reputasi dan eksistensi.

Demikian diingatkan Sugiyono PhD, anggota Dewan Eksekutif Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi (PT) saat berbicara dalam Seminar Nasional Pendidikan diselenggarakan Direktorat Pascasarjana Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) di kampus Pusat UST, Jalan Kusumanegara 157, Timoho, Sabtu (28/4).

Seminar bertema Peningkatan Kualitas Pendidikan Tinggi, Dasar dan Menengah juga menghadirkan narasumber Prof Dr Supriyoko M.Si. (Direktur Pascasarjana Pendidikan UST), Prof Dr Soesanto MPd (Ketua Asosiasi Dosen dan Guru V okasi Indonesia) dengan moderator Dr Hasti Robiasih MPd. Seminar tersebut diberi pengantar Dr Sunarto MPd (Wakil Direktur Pascasarjana Pendidikan UST) dan dibuka Pardimin, MPd PhD selaku Rektor UST.

Menurut Sugiyono, lembaga pendidikan yang suka latah dan salah kaprah menanda sekadar ikut-ikutan saja, tidak memiliki prinsip kuat. ”Betapa banyak perguruan tinggi dengan menggunakan label internasional, world class university, tapi saat saya masuk melakukan akreditasi ternyata sekadar lebel saja. Dari pada dengan label world class university, lebih baik world class education.” ujarnya.

Contoh konkret, kelas internasional, peserta didik, mahasiswa Indonesia, hanya penyampaiannya menggunakan bahasa Inggris. ”Ini salah kaprah. Harusnya peserta didik dari berbagai negara, penyampaiannya bahasa Inggris.” kritiknya.

Sugiyono menegaskan, saatnya lembaga pendidikan tinggi, dasar dan menengah punya rasa percaya diri dengan eksistensi dan reputasi yang dimiliki. ”Ambil contoh, konsep niteni, nirokke dan nambahi lekat dengan Ki Hadjar Dewantara. Dunia ingin tahu KHD rujukannya ya...ke Tamansiswa atau UST, tidak ke mana-mana. Lembaga ini sudah punya ciri khas. Eksistensi dan reputasi itu, salah satu dari kekhasan lembaga tersebut secara mengglobal.” ujarnya.

Sedangkan Soesanto lebih banyak mengupas soal eksis tensi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Lulus SMK tidak ada jaminan langsung kerja. ”Bukan soal kualitas, tetapi ketersediaan lapangan kerja.” katanya. Sebaiknya ada sekolah ada pabrik. Pemerintah seharusnya bertanggung jawab dengan lapangan kerja.

”Saya mengamati pemerintah kurang memiliki komitmen menyediakan lapangan kerja.” kritiknya. Sementara itu, Supriyoko lebih banyak membahas peningkatan kualitas pendidikan dasar dan menengah di Indonesia.

Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Minggu Wage 29 April 2018 Hal 2

Tags :

Info Terkait

Tinggalkan Komentar

  • Nama
  • Website
  • Komentar
  • Kode Verifikasi
  • 173 + 2 = ?
Banner
SMS Center
International Seminar
Online Support
Statistik Member
Member:211 Orang
Member Aktif:211 Orang
Member Baru Hari Ini:0 Orang
Statistik Pengunjung
Pengunjung Online:1
Total Pengunjung:156710
Total Hits:556955
Copyright © 2014 Pascasarjana Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. All Rights Reserved
Developed by Beesolution.Net