Analisis KR Kualitas Manusia Indonesia

Bookmark and Share
08 Oktober 2018 - 08:30:51 » Diposting oleh : admin » Hits : 285
Analisis KR Kualitas Manusia Indonesia


Prof. Dr. Supriyoko, M.Pd.

Pertengahan bulan lalu, tepatnya 14 September 2018 United Nations Development Programme (UNDP) mempublikasi laporan tahunan Human Development Report (HDR) 2018. Laporan ini memuat kualitas manusia dalam satuan bangsa, termasuk bangsa Indonesia. Semua itu tercermin dalam sistem pemeringkatan Human Development Index (HDI).

Nilai HDI ditentukan 3 aspek, yaitu panjangnya dan sehatnya hidup yang diukur dari angka harapan hidup, akses pada ilmu pengetahuan yang diukur dari rata-rata lama bersekolah dan lama bersekolah yang diharapkan. Juga standar kehidupan yang layak yang diukur dari pendapatan nasional bruto per kapita.

Ketiga aspek tersebut selanjutnya disinergikan untuk menentukan nilai HDI suatu bangsa. Nilai HDI ini mencerminkan kualitas suatu bangsa; semakin tinggi capaian nilai HDI mencerminkan semakin tinggi kualitas bangsa yang bersangkutan.

Bagaimana hasil pemeringkatan dalanm laporan UNDP tersebut? Kalau kita cermati, dalam laporan tersebut terdapat 189 negara yang diperingkatkan; pada peringkat ke-1 adalah Norwegia dengan nilai HDI sebesar 0,953 (tahun 2015 sebesar 0,944) dan peringkat ke-189 adalah Nigeria dengan nilai HDI sebesar 0,354 (tahun 2015 sebesar 0,348)

Kalau dicermati, Indonesia terjepit empat negara yang HDI-nya jauh lebih tnggi yaitu Australia (ke-3) nilai HDI 0,939 Singapura (ke-9) nilai HDI 0,932, Brune Darussalam (ke-39) nilai HDI 0,853, serta Malaysia (ke-57) nilai HDI 0 802. Australia Singapura, Brunei dan Malaysia termasuk negara dengan HDI berkategon sangat tinggi. Sedangkan Indonesia (ke-116) dengan HDI sebesar 0,694 termasuk berkategori sedang. Indonesia dapat dikatakan dikepung negara-negara yang kualitas bangsanya lebih tinggi.

Singapura misalnya. Meskipun secara geografis luas negaranya relatif sempit dan jumlah warga negaranya hanya setara dengan penduduk DKI Jakarta tetapi kualitasnya jauh lebih memadai daripada Indonesia. Dengan kualitas bangsa yang lebih memadai maka Singapura lebih mudah untuk menyejahterakan dirinya sendiri. Menurut catatan Finansialku, pendapatanper kapita Singapura saat ini mencapai US$ 52.841 atau sekitar Rp 708,07 juta Angka ini hampir 16 kali lipat pendapatan per kapita Indonesia yang hanya sebesar US$ 3.347 atau Rp 44,85 juta.

Dalam laporan UNDP kali ini ada sesuatu yang menarik dicermati, yaitu posisi Malaysia. Tahun 2015, posisi Malaysia diperingkat ke-62 dan Indonesia ke-111; sedangkan pada tahun 2018 ini Malaysia naik di peringkat ke-57 dan Indonesia justru turun ke-116. Artinya secara komparatif kualitas bangsa Malaysia mengalami kenaikan. Sebaliknya kualitas bangsa Indonesia justru mengalami penurunan. Pada sisi lain posisi Malaysia yang sebelum ini berada pada Kelompok Negara Pembangunan Manusia Tinggi sekarang meloncat menjadi Kelompok Negara Pembangunan Manusia Sangat Tinggi. Sementara Indonesia masih bersikutat pada Kelompok Negara Pembangunan Manusia Sedang.

Yang perlu kita pelajari dan kalau perlu ditiru adalah bagaimana cara Malaysia tidak saja sekadar menaikkan peringkat HDI-nya tetapi sekaligus meloncat peringkat kelompok negaranya Malaysia adalah negara yang bersungguh sungguh berusaha untuk membenahi dirinya, mau belajar dari negara manca serta tidak malu mendatangkan ahli dari manca. Bahwa dalam urusan politik negara tersebut sering rebut, kiranya tidak salah. Namun dalam urusan pendidikan mereka telah memiliki grand design untuk meningkatkan kualitas bangsa yang tidak pernah diributkan.

Malaysia termasuk gencar mengirim anak-anak muda untuk belajar ke mancanegara, seperti Australia, Inggris, Prancis, Jerman bahkan Amerika Serikat sekalipun. Meski penduduk Malaysia hanya sekitar sepersepuluh penduduk Indonesia tetapi jumlah anak muda yang dikirim belajar ke manca negara jumlahnya setara dengan anak muda Indonesia yang dikirim belajar ke manca Negara.

Malaysia juga tidak malu-malu menghadirkan ahli dari manca untuk membangun negara sepert dari Inggris, Australia, Jerman, Amerika Serikat, bahkan dari Indonesia. Tentu kita ingat dalam periode tertentu ribuan guru dan dosen Indonesia dihadirkan membangun bangsa Malaysia melalui pendidikan dengan kompensasi finansial yang memadai. Barangkali berbagai strategi yang ditempuh Malaysia bisa ditiru untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam skala bangsa.

Penulis adalah Direktur Pascasarjana Pendidikan UST Yogyakarta

Diliput di Harian Kedaulatan Rakyat, Senin, 8 Oktober 2018 halaman 1

Info Terkait

Tinggalkan Komentar

  • Nama
  • Website
  • Komentar
  • Kode Verifikasi
  • 188 + 9 = ?
Banner
SMS Center
International Seminar
Online Support
Statistik Member
Member:211 Orang
Member Aktif:211 Orang
Member Baru Hari Ini:0 Orang
Statistik Pengunjung
Pengunjung Online:2
Total Pengunjung:144645
Total Hits:521137
Copyright © 2014 Pascasarjana Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. All Rights Reserved
Developed by Beesolution.Net