Analisis KR Guru Produktif

Bookmark and Share
19 Februari 2019 - 08:48:38 » Diposting oleh : admin » Hits : 197
Analisis KR Guru Produktif

       Presiden Jokowi meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk meningkatkan jumlah dan kualitas guru terampil yang sangat diperlukan untuk membangun Indonesia di masa depan. Guru-guru yang ada harus ditingkatkan keterampilannya agar lebih berkualitas dalam mendidik dan melatih siswa.

       Pernyataan orang nomor satu di Indonesia tersebut disampaiakan dalam pidato pembukaan Rembug Nasional Pendidikan (RNP) di Pusat Pendi-dikan dan Latihan Kemdikbud, Sawangan, Depok pada beberapa hari yang lalu. Seperti diketahui, acara RPN merupakan acara rutin tahunan Kemdik-bud yang diikuti oleh insan pendidikan untuk membahas masalah-masalah strategis guna mengembangkan sistem dan praktik pendidikan nasional. Sebagai catatan dalam RNP tahun 2019 ini jumlah pesertanya mencapai 1.238 orang praktisi pendidikan.

       Lebih lanjut Pak Jokowi menyampaikan data perbandingan yang sangat antagonistik. Di sekolah-sekolah kejuruan sekarang ini terdapat sekitar 65 persen guru normatif dan sekitar 35 persen guru terampil; padahal seharus-nya guru terampil atau yang selama ini kita kenal sebagai guru produktif memiliki persentase yang lebih dominan.

Program Keahlian Ganda

       Mengenai kurangnya guru produktif sebagaimana yang dinyatakan oleh Presiden Jokowi rupanya telah disadari oleh jajaran Kemdikbud, tetapi untuk mengangkat guru (produktif) yang baru tentu diperlukan kebijakan khusus di samping harus ada dilakukan koordinasi yang konstruktif dan produktif antarkementerian.

       Atas kondisi tersebut di atas maka semenjak beberapa tahun yang lalu Kemdikbud mengembangkan Program Keahlian Ganda yang memung-kinkan guru normatif dan guru adaptif diberi keahlian tertentu sehingga bisa menjadi guru produktif.
       Seperti diketahui di lingkungan sekolah kejuruan terdapat tiga jenis guru; masing-masing adalah guru normatif seperti Guru Agama, Guru Pan-casila, Guru Bahasa Indonesia, dsb., guru adaptif seperti Guru Matematika, Guru Fisika, Guru Kimia, dsb., serta guru produktif seperti Guru Teknik Kendaraan Ringan untuk Program Keahlian Teknik Otomotif, Guru Multi-media untuk Program Keahlian Teknik Komputer dan Informatika, Guru Seni Pedalangan untuk Program Keahlian Seni Pedalangan, dsb.

       Seorang Guru Matematika dimungkinkan mengambil Keahlian Kenda-raan Ringan misalnya. Selanjutnya guru tersebut diberi pendidikan dan pelatihan tentang kompetensi pengecoran logam selama sekitar 1,5 tahun yang dalam perjalanannya didampingi oleh guru pendamping yang memang sudah memiliki keahlian di bidang teknik kendaraan ringan.

       Peserta Program Keahlian Ganda tersebut juga diwajibkan mengikuti magang kerja di industri untuk mempertajam keahlian barunya; dan pada bagian akhir pendidikan dan pelatihan dilakukan ujian kompetensi yang dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang telah mendapatkan lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BSNP). Kalau peserta ujian tersebut dinyatakan lulus maka Guru Matematika peserta Program Keahlian Ganda tersebut diberi sertifikat keahlian (teknik kendaraan ringan) yang dikeluarkan oleh LSP.

       Pelaksanaan Program Keahlian Ganda tentu tidak mudah; bayangkan seorang Guru Matematika yang sudah “terlanjur” berkompetensi di bidang angka-angka harus membiasakan diri dengan kompetensi baru di bidang permesinan. Demikian pula untuk bidang-bidang keahlian lainnya.


Kewajiban Kemdikbud

       Harus diakui bahwa Program Keahlian Ganda sangatlah solutif; dalam hal ini dapat menambah guru produktif tanpa harus menambah guru baru yang akan menyita anggaran pemerintah untuk sekolah negeri dan anggaran masyarakat penyelenggara pendidikan untuk sekolah swasta.

       Di Belanda ada program serupa yang diselenggarakan oleh Centrale Vakopleiding van Volwassenen (CVVV) atau Pusat Pelatihan Kejuruan bagi Orang Dewasa yang diselenggarakan oleh Kementerian Urusan Sosial (Ministerie van Sociale Zaken).
       Sasaran CVVV sebenarnya adalah orang-orang dewasa pada umumnya, baik yang belum maupun yang sudah memiliki pekerjaan tetap, yang ingin mempertajam keterampilan atau keahliannya di bidang tertentu. Adapun jangka pendidikan dan pelatihannya bisa berbeda antara peserta yang satu dengan yang lain karena sangat tergantung dengan jenis dan ketajaman keterampilan yang diambil oleh masing-masing peserta.

       Menurut pengalaman penulis ketika mengikuti pendidikan dan pela-tihan di CVVV Den Haag, banyak peserta yang telah mapan hidupnya seperti dokter, pemimpin toko, manager dan insinyur. Di luar itu ada pula guru sekolah kejuruan atau middelbare school. Adapun motivasi para guru kejuruan ini adalah mempertajam kompetensi kejuruan atau keahlian yang telah dimiliki.

       Program Keahlian Ganda yang ada kemiripan dengan CVVV di Be-landa masih banyak kekurangan dalam pelaksanaannya. Kiranya menjadi kewajiban Kemdikbud untuk meminimalisasi berbagai kekurangan tersebut sehingga harapan Presiden RI untuk meningkatkan keterampilan guru guna membangun masa depan Indonesia bisa terpenuhi !!!*****

_________________________________________________________
BIODATA SINGKAT:
Prof. Dr. Ki Supriyoko adalah Direktur Pascasarjana Pendidikan UST Yogyakarta dan alumnus CVVV Den Haag Belanda

Dimuat di harian Kedaulatan Rakyat (KR) Selasa Kliwon, 19 Februari 2019 Hal. 01

Info Terkait

Tinggalkan Komentar

  • Nama
  • Website
  • Komentar
  • Kode Verifikasi
  • 138 + 4 = ?
Banner
SMS Center
International Seminar
Online Support
Statistik Member
Member:211 Orang
Member Aktif:211 Orang
Member Baru Hari Ini:0 Orang
Statistik Pengunjung
Pengunjung Online:3
Total Pengunjung:153130
Total Hits:544260
Copyright © 2014 Pascasarjana Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. All Rights Reserved
Developed by Beesolution.Net