News Update27 April 2016 14:50:11: Tantangan Lulusan Magister Pendidikan UST

’SUNGKEMAN” VIRTUAL (Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd.)

Bookmark and Share
16 Mei 2021 - 15:00:54 » Diposting oleh : rahmatmulyono » Hits : 267
’SUNGKEMAN” VIRTUAL (Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd.)

Humas. 16/05/2021. TIAP bangsa di dunia memiliki kekhasan ekspresi budaya lebaran. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya orang Jawa, momentum riyaya bakda pasa atau lebaran  dimanfaatkan sebagai ajang memaafkan dan silaturahim. Dari keluarga, sanak saudara, hingga kerabat tidak luput menjadi sasaran permohonan maaf. Di Jawa kegiatan tersebut diwujudkan dengan sungkem, yang merupakan tanda bakti dan hormat,  yang biasanya dilakukan anak kepada orang tua atau keluarga yang lebih sepuh.

 

Etika sungkem, dilakukan seusa salat Id ditunjukkan dengan bersimpuh, mencium tangan, dan ungkapan rendah hati rasa bersalah selama setahun belakangan. Almarhum Umar Kayam, budayawan Yogya, pernah berteori perihal sungkeman yang sangat lekat di tengah masyarakat Jawa. Prosesi sungkeman, sebagaimana tradisi mudik dan perayaan lebaran, merupakan produk akulturasi budaya Jawa dan Islam. Akulturasi ini bukti kearifan para ulama di masa silam dalam menjaga kerukunan dan kesejahteraan masyarakat setempat.

 

Kedudukan tradisi sungkeman tidak memperlihatkan rendahnya derajat seorang manusia di antara sesama. Namun, menyimbolkan kemuliaan akhlak dalam hubungan sosial. Tujuan utama tradisi ini sebetulnya bukan hanya permohonan maaf atas kesalahan dan kelalaian. Melainkan juga tanda penghormatan kepada orang lain yang telah memberikan teladan dan hikmah kehidupan.

 

Lebaran tanpa sungkeman bagai sayur tanpa garam. Jika Idul Fitri tidak dibarengi dengan sungkeman, menurut budaya dan tradisi Jawa, sama halnya seperti kehilangan esensi maknanya. Momentum ini teramat spesial bagi masyarakat umum, bahkan sebagian besar orang harus menempuh usaha ekstra untuk mencapainya. Bagi peran tau di kota besar, sungkeman adalah kesempatan yang ditunggu karena tidak terulang dua kali. Sebelum pandemi Covid-19 orang rela mengeluarkan ongkos mahal agar bisa pulang kampung. Mereka sampai rela berdesak-desakan, bersabar terhadap kemacetan, maupun tulus bertahan semalam suntuk agar mendapatkan tiket pulang.

 

Betapa berartinya sungkeman bagi alam pikiran tradisi dan budaya Jawa itu. Mudik, sungkeman, dan perayaan di Idul Fitri merupakan wujud penghayatan orang Jawa atas realitas sangkan paraning dumadi (asal-usul kehidupan). Fenomena tersebut membuktikan khazanah kebudayaan Jawa yang bersifat konstruktif, teoretis, dan filosofis. Bagi orang Jawa semua itu sudah melekat sebagai nilai hidup serta perilaku kemanusiaannya. Ikatan kultural yang mewujudkan tradisi sungkeman sesungguhnya menunjukkan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian kehidupan sehari hari. Itulah sebabnya, orang harus mudik karena keterikatan budaya yang telah menjadi prinsip hidup.

 

Pemerintah Indonesia melarang mudik lebaran tahun ini. Pengetatan perjalanan dan peniadaan mudik disebutkan dalam Surat Edaran Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021. Surat tersebut berlaku mulai 22 April-5 Mei dan 18-24 Mei. Meskipun tradisi mudik telah berjalan secara turun-temurun, pandemi membuatnya lebih fleksibel. Kebudayaan Jawa selalu akomodatif terhadap situasi dan kondisi. Tradisi mudik masa pandemic dilakukan secara virtual demi kebaikan bersama. Mudik virtual menawarkan solusi sungkeman tanpa risiko penyebaran dan penularan Covid-19. Bahkan sangat mungkin ditayangkan secara live streaming melalui zoom atau google meet.

 

Sungkeman virtual tersebut seharusnya juga menjadi jalan keluar bagi pihak Lembaga atau instansi apa pun ketika akan menggelar open house. Justru cara inilah yang paling tepat untuk merawat tradisi sekaligus melek teknologi. Dengan demikian. Revolusi Industri 4.0. menawarkan kemudahan sungkeman dan mudik virtual yang tengah dihadapi sebagian besar masyarakat Indonesia. Selain terjangkau bagi siapa saja, jalan tengah ini turut mengakselerasi pemulihan semua sektor yang terdampak karena virus Corona. Tanpa kerjasama dan kerelaan dari berbagai pihak, penanganan Covid-19 sukar dimungkinkan. Paling tidak titik berangkat pemecahannya melalui mudik dan sungkeman virtual.

 

(Penulis adalah Rektor UNY Periode Tahun 2016-2020, kini Dosen Pascasarjana Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa). Artikel dimuat pada Kedaulatan Rakyat, 10 Mei 2021, kolom Analisis KR.

Salam Humas

Ki RM

Info Terkait

Tinggalkan Komentar

  • Nama
  • Website
  • Komentar
  • Kode Verifikasi
  • 130 + 5 = ?
Banner
SMS Center
PMB
Online Support
Statistik Member
Member:225 Orang
Member Aktif:225 Orang
Member Baru Hari Ini:0 Orang
Statistik Pengunjung
Pengunjung Online:1
Total Pengunjung:241706
Total Hits:860003
Copyright © 2014 Pascasarjana Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. All Rights Reserved
Developed by Beesolution.Net